MAKALAH PENGANTAR PERJANJIAN BARU 1
-
PENDEKATAN PELAYANAN MISI PAULUS DI ATENAKISA PARA RASUL 17:16-34
DISUSUN OLEH :YURMIN YANDOSekolah Tinggi Theologia JaffrayMakassar2017
DAFTAR
ISI
BAB
I
Kata
pengantar……………………………………………. i
PENDAHULUAN…………………………………………. ii
Latar Belakang Rasul
Paulus……………………………… iii
Pokok
Masalah…………………………………………….. iv
Tujuan Penulisan…………………………………………… iv
BAB II
Dialog Pendekatan
Pelayanan Misi Paulus………………… 6
Dialog Dengan Akhli
Filsafat Dari Atena………………... 7
Khotbah Paulus di
Areopagu…………………………….. 11
BAB III
Penerapan Misi Penginjilan Gereja Masa Kini………….. 15
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan
…………………………………………………. 16
Saran…………………………………………………………. 16
Daftar
Pustakaan…………………………………………….. 17
KATA PENGANTAR
Puji
syukur panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas pertolongan-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis menyusun makalah ini dengan
judul “Pendekatan Pelayanan Misi Paulus Di Atena”. Makalah ini disusun
sedemikian rupa dengan tujuan untuk melengkapi tugas pada mata kuliah Pengantar
Perjanjian Baru I. Makalah ini disusun menggunakan bahasa sederhana sebagaimana
dimengerti oleh penulis. Selain itu isi dalam makalah ini dibahas mengunakan
analisa penulis berdasarkan beberapa sumber terpercaya seperti Alkitab dan buku
tafsiran Kisah Para Rasul, serta artikel dalam situs internet yang sesuai
dengan tema pembahasan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pdt. Dr. Yunus
Laukapitang, selaku dosen Pembimbing Pada Mata Kuliah Pengantar Perjanjian Baru
I. dan penulis sadar akan adanya beberappa kekurangan dalam makalah ini dari
perbagai sudut pandang sehingga saran dan kriitik, yang membangun sangat
diperlukan oleh penulis untuk dapat menyusun makalah lebih baik lagi.
Makassar,
17 Oktober, 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang Rasul Paulus
Rasul Paulus
dikenal sebagai Rasul yang dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk mewartakan Injil
kepada bangsa-bangsa lain/ non- Yahudi ( Rom 11:13, 15:16; Gal 1:16, Kis 26:20)
dan dengan demikian menjadi jembatan antara bangsa Yahudi dengan bangsa-bangsa
lain. Untuk tugas ini, Tuhan telah mempersiapkan Rasul Paulus sejak awal, sebab
ia menerima pendidikan yang baik, baik dalam kalangan Yahudi maupun di kalangan
Yunani. Namun di atas panggilannya sebagai
jembatan kaum Yahudi dan Yunani, pertama-tama Rasul Paulus menerima bahwa ia
dipanggil secara khusus (Special Calling)
oleh Tuhan dan memperoleh rahmat-Nya dalam keadaan yang tidak layak. Panggilan
Tuhan Yesus atasnya terjadi dalam perjalanannya ke Damaskus (Damsyik). Sebelum
ke Damaskus, ia memberikan diri sepenuhnya kepada hukum Taurat, dan setelah
peristiwa Damaskus, ia memberikan sepenuhnya kepada Kristus. Lukas melaporkan
hal ini sebanyak tiga kali (Kis 9:1-9, 22:6-16, 26:12-18).
Demikianlah
keterangan sekilas tentang Rasul Paulus, setelah penulis mempelajari dari panggilan Rasul Paulus dan
persiapan pelayanan misinya dan penulis juga sadar bahwa Paulus yang duluhnya
penjahat yang menganiaya dan membunuh orang Kristen, tetapi Yesus memanggilnya
dan mengutus mejadi Rasul bagi Yesus, hal ini mendorong Penulis bahwa duluhnya
berpikir bukan panggilan tetapi sekarang sadar bahwa Tuhan Yesus yang menangkap
dan membentuk di tempat ini. Dan siap untuk menginjili orang-orang yang sedang
sakit oleh Rohani, dan yang memmbutuhkan pelayanan.
Pokok Pembahasan
Masalah
Berdasarkan
perjalanan Paulus ke Atena, dia sangat sedih ketika melihat orang-orang di
sekitar itu menyembah berhala kepada patung-patung buatan tangan manusia:
PERTAMA,
apa tujuan Paulus tentang pelayanan di Atena?
KEDUA,
mengapa Rasul Paulus ke Atena?
KETIGA,
bagaimana Rasul Paulus memulai dialog dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang
yang takut akan Allah?
TUJUAN PENULIS
Tujuan
penulis dalam makalah ini adalah penginjilan Rasul Paulus di Atena, sebagai mandat Allah yang telah ia terima
sendiri melalui pertobatan-Nya menuju Damaskus (Damsyik) untuk menganiaya dan
membunuh orang-orang Kristen, Namun Tuhan Yesus Sendiri memberi Pengilhatan dan
menangkap Paulus dan menjadikan muridnya, sesuai dengan teks firman Tuhan yang mengatakan bahwa ”yaitu apa
yang telah kuterima sendiri,” (1 kor
15:3). Sebagai rekan kerja Allah yang baik Rasul Paulus menjalankan misi
pennginjilannya dengan semangat juang
yang tinggi, karena Rasul Paulus menyadari penting kehidupan yang dianugerahkan
oleh Tuhan sebagai amanat Agungu yang dipercayakan oleh Allah kepada dirinya.
Sebagai
seorang hamba Tuhan pada masa kini, maka penulis ingin menulis mengenai pelayanan Rasul
Paulus ini sebagai suatu pedoman dalam melakukan pelayanan yang sedang
dilakukan dan yang akan dilakukan dalam keseharian kehidupan ini.
BAB
II
TUJUAN
PENDEKATAN PELAYANAN MISI
1. Dalam bagian firman Tuhan ini saya akan
menelusuri jejak Paulus dalam misi persiapan
pelayanan setelah ia dipanggil oleh Yesus Kristus sendiri, dan tujuan
Paulus utama ke kota Atena adalah, misi untuk memberitakan injil kerajaan Allah
yang sebenarnya melalu Yesus kristus, yang telah mati diatas kayu salib, mengalakan
maut melalui kebangkitan Yesus dan, membuktikan bahwa ia adalah anak Allah yang
memberi kuasa baik di surga ia telah melihat Yesus (1 Kor 9:1). Ia juga menjadi
saksi kebangkitan Kristus, ia ditetapkan sebagai Rasul oleh Yesus Kristus dan
oleh Allah bapa ( Gal 1:1). Injil Yesus Kristus ini di percayakan kepadanya dan
dia juga diperlengkapi dengan kuasa untuk mengerjakan mujizat-mujizat sama
seperti yang terjadi pada Rasul-rasul lain. Dan Paulus diurapi dengan kuasa Roh
Kudus untuk memberoleh pengetahuan yang khusus dalam pelayanannya. Sementara
Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat,
bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.
2. Pada
waktu itu Rasul Paulus menginjili orang-orang terpelajar di Kota Atena. Kota
Atena merupakan pusat para sarjana, cendekiawan, ilmuwan dan filsuf, sehingga
kota ini terkenal sebagai kota pendidikan yang tinggi dan pola pikir yang maju.[1]
Jadi
Rasul Paulus sudah tahu mereka bahwa mereka adalah orang-orang terpelajar
tetapi rasul Paulus mau ingin mendekati mereka dan menginjili mereka.
3.
Dialog
Dengan Ahli Filsafat Dari Atena.
Di Atena, Paulus bekerja dalam dua sisi: di sinagoge
menghadapi orang-orang Yahudi. Yang dimaksud dengan sinagoge, dalam budaya orang Yahudi tempat pusat
pendidikan, dan kehidupan social mereka. Tetapi bangunan ini juga merupakan
tempat suku bangsa Yahudi untuk berkumbul, belajar, dan beribadah. Dan
disinilah Rasul Paulus mulai berdialog dengan ahli-ahli taurat itu, sebelum
Rasul Paulus mengunjili dan memberitakan [2]tentang
siapa Yesus dan apa kepercyaan mereka terlebih dahulu ia berdialog dengan akhli
filsafat Yahudi untuk mengetahui kehidupan mereka. Yang dimaksud dengan orang
kafir adalah mereka yang tidak percaya sama sekali tentang siapa itu Yeus
Kristus dan apa itu kebenaran, dan keselamatan melihat dari latar belakang ini
Rasul Paulus berani mengambil kesempatan untuk berdialog dengan mereka dan
persiapan untuk berkhotbah dang mengajarkan tentang Yesus bahwa hanya dialah
jalan satu-satunya menuju keselamatan selain dari pada dia tidak ada jalan
untuk menuju keselamat, takut akan Allah dan di pasar orang berhadapan dengan
orang-orang kafir yang kebetulan lewat.
a.
Pendekatan
Paulus di pasar.
Pendekatan Paulus di
pasar ini mirip dengan ahli filsafat popular, yang berbiacara kepada siapa pun
yang mereka jumpai. Lukas cenderung menyejajarkan orang-orang Epikuros dengan
Saduki, Stoa dengan orang Farisi, seperti dilakukan sejarahwan Yahudi bernama
Yosefus. Orang Epikuros mendesak orang-orang untuk tidak percaya kepada mite-mite
Yunani mengenai dewa-dewi yang membalas dendam dan siksaan-siksaan sesudah
kematian. Sebaliknya orang Stoa percaya atas penyelengggaraan para dewa dan
hukum alam yang harus ditaati manusia.
Dalam abad pertama kekaisaran Romawi, banyak agama baru dan
budaya baru tersebar, terutama dari timur.
Pasar merupakan tempat dimana orang
berkumpul untuk melakukan transaksi jual beli antara pembeli dan penjual dan
ada berbagai macam orang yang ada disekitar pasar itu, maka cara menginjili
Rasul Paulus bukan hanya di rumah ibadat sebagai pusat pelayanannya, namun ia
mencari tempat yang tepat untuk menyampaikan Firman pada waktu itu ia ke Pasar
dan disitu juga mereka Tanya jawab dan menginjil mereka tentang siapa itu Yesus
Kristus dan Tuhan adalah Juruselamat yang hidup dan kekal selaman-Nya.
Mengabarkan Injil dapat diadakan di tempat umum seperti pasar, dimana
masyarakat banyak dapat berkumpul, baik orang kristen maupun yang non kristen
yang belum pernah mendengarkan berita Injil.
Dengan demikian mengabarkan Injil
dapat diberitakan secara luas, dan akan menjadi kesaksian persekutuan kristus
dalam tugas pemasyuran kerajaan Allah.
4. Tetapi kita dapat melihat jika
menyampaikan Injil di pasar ada keefektifan dan ketidakefektifan karena pasar
merupakan tempat umum dan semua orang dapat berkumpul maka, tidak semua orang
dapat menerima Injil tersebut melainkan mereka bisa saja menolak Injil tersebut
dengan alasan mereka sudah mempunyai kepercayaan lain sehingga segala sesuatu
yang di kerjakan dalam pemberitaan Injil masa kini biasa saja tidak ada
pengaruhnya.
5.
Yang
perlu berhatikan masa kini adalah tempat-tempat umum seperti pasar, jalanan, bandara,
rumah sakit dan penjara disitu sangat tepat karena tempat itu umum, dimana
kumpulnya berbagai macam orang, ada yang beragama ada pula yang tidak beragama
ada juga yang perbedah kepercayaan, disinilah kesempatan untuk kita bisa
menginjili orang dengan tawarkan ngobrol atau perbincang sebentar lalu pertanya
jawab.
6.
Strategi
Penginjilan Paulus
Rasul
Paulus mulai menginjili orang Atena di rumah ibadat Yahudi serta di pasar
dengan cara bbertukar pikiran dan bersoal jawab dengan siapa saja yang bersikap
terbuka akhirnya Paulus di undang ke Areopagus, badan sendikiawan yang
berfungsi seperti majelis ulama di Indonesia.
Paulus
mulai memberitakan injil dengan cara memuji mereka atas kesungguhan mereka
dalam segala hal yang kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Ia mulai
mendekati mereka dengan cara sepositif mungkin dan berusaha menghindari
konfrontasi.
Setelah memuji mereka ia menemukan suatau
jempatan supaya pesan yang disampaikan dapat menjadi sasran dan sekaligus
relevan bagi para pendengarnya, sebab ketika aku berjalan-jjalan di kota-Mu dan
melihat-lihat barang-barang pujaan-Mu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan
tulisan “kepada Allah yang tidak dikenal apa yang kamu sembah tanpa
mengenal-Nya, itulah yang kuberitahukan kepada kamu”
Perhatikan
bahwa Paulus menjadikan sebuah mezbah, bukan sebuah patung berhala sebagai
titik tolak. Rupahnya, Allah yang berdaulat sudah mempersiapkan orang Atena
untuk menerima injil melalui mezah ini. Paulus kemudian menyatakan bahwa tugas
dan tujuan-Nya ialah memperkenalkan Allah yang tidak kenal oleh mereka. Jadi
disini mejelaskan bahwa Rasul Paulus menyakinkan mereka bahwa keselamatan hanya
bersasal dari Yesus Kristus.
Kelihatannya
Paulus percaya bahwa setiap kebudayaan atau agama mempunyai unsur-unsur
kebenaran sehingga ia berani mengutip puisi orang-orang Yunani yang di
sejajarkan dengan dengan firman Allah. Jadi sebelum ia menginjili mereka Paulus
memakai cara yang sederhana yaitu dengan cara puisi setelah mereka mengerti
tentang puisi lalu ia mulai menginjili mereka sehingga injil yang disampaikan
menjadi relevan.[3]
7.
Khotbah
Paulus di Areopagus.
Khotbah Paulus di Areopagus tempat bertemuan di
Atena, berbedah dengan khotbah-khotbah kepada orang-orang Yahudi yang bertolak
dari Alkitab; kepada ahli filsafat Yunani, lebih bersifat filosofis, memang
berdasarkan Alkitab, tetapi mengambil bagian yang lebih kedengaran filosofis.
Ini suatu cotoh bagus mengenai cara orang Yahudi maupun Kristen mencobah
mempertobatkan orang-orang kafir dengan mengacu pada [4]“teologi
naturalis” yaitu bukti-bukti dari alam mengenai Allah yang menciptakannya.
Karena banyak pernyataan teologis naturalis dalam perjanjian lama, baik orang
Yahudi maupun Kristen melihat adanya kontradiksi antara teologi naturalis
filosofis dan kebenaran yang diwahyukan mengenai Allah dalam kitab suci.
Meskipun Kisah 17:16 menyebutkan
kejengkelan Paulus mengenai adanya banyak berhala di Atena, disini Paulus
memuji orang-orang Atena karena begitu religious! Sesudah menyambaikan
pandangan mereka, Paulus tiba-tiba mengemukan pandangan dengan menyamakan
“allah yang tak dikenal” sebagai Allah yang ia wartakan. Para pakar menemukan
ucapan “allah-allah yang tidak dikenal” bukan allah yang dikenal” di Atena.
Gambaran semua bangsa meraba-raba
mencari Allah (seperti seorang dalam kegelapan) mengungkapkan bahwa semua
manusia mampu mengenal Allah dan apa lagi tentu lebih baik bagi orang-orang
Yahudi dan Kristen, karena kepada mereka ia mewhayukan diri. Seperti dalam (Rom
1:19-20,) mannusia dapat mengenal Allah melalui alam dan pewhayuan. Tetapi
kebangkitan Yesus adalah pewhayuan yang penuh. Abad-abad sebelum kebangkitan
adalah “zaman ketidak tahuan” , karenannya kegagalan untuk mengenal Allah dapat
dimanfaatkan. Pewahyuan membawah serta tanggung jawab untuk pertobat dan
percaya (Kis 17:30; lih juga 3:17; 13:27 dan Luk 23:34).
Seperti
orang-orang Farisi dan Saduki mendengarkan hanya ketika disebut mengenai
kebangkitan dalam kisah 23:6-8, para ahli filsafat Yunani juga “memotong”
percakapan mengenai hal itu. Beberapa orang merasa tertarik (barangkali kaum
stoa orang Farisi dalam kis 23). Yang lain menertawakan dan menolak kebangkitan
(barangkali orang Epikuros, dan Saduki.
8.
Paham
stoa
Menolak
penyembahan berhala kafir dan mengajarkan tentang keberasaan satu “Allah
Semesta”. Mereka adalah penganut pantheisme, dan menekankan disiplin pribadi
serta pengendalian diri. Kesenangan bukalnlah sesuatu yang baik dan penderitaan
tidaklah buruk. Hal terpenting didalam hidup ialah mengikut penalaran dan yakin
pada kemampuan diri sendiri, tidak terpengaruh oleh perasaan batin atau
lingkungan luar. Tentu saja, filsafat seperti itu hanya memperbesar kesombongan
diri dan mengajarkan bahwa manusia tidak memerlukan pertolongan Allah. Yang
menarik ialah dua orang pemimpin pertama dari paham stoa ini melakukan bunuh
diri.
9.
Paham
penganut Epikuros
Penganut
Epikuros mengatakan “Nikmatilah Hidup” dan penganut Stoa mengatakan, “Jalanilah
Penderitaan Hidup” namun Paulus tetap harus menjelaskan bagaimana mereka dapat
memasuki kehidupan kekal melalui iman didalam Anak Allah yang telah bangkit
itu.[5]
Karena itu dirumah ibadat ia bertukar pikiran
dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan dipasar
setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya disitu diskusi dan pertanya
jawab dengan mereka. Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa
bersoal jawab dengan dia berkata Aapakah yang hendak dikatakan oleh si peleter
itu?” tetapi yang lain berkata, “rupa-rupanya ia adalah pemberita-pemberita
ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitahkan injil tentang Yesus dan
kebangkitan.
10. Dialog Paulus Menghadapi Sidanng
Areopagus
Lalu
mereka membawahnya menghadap sidang Areopagus dan mengatakan, “berolehkah kami
tahu ajaran baru mana yang kau ajarkan ini? Sebab engkau memperdengarkan kepada
kami perkara-perkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya
semua itu.” Adapun orang-orang atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ
tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar
segala sesuatu yang baru.
Paulus
pergi berdiri diatas Areopagus dan berkata, “hai orang-orang Atena, aku lihat,
bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.
Sebab
ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang pujaanmu, aku
menjumpai juga sebuah Mezbah dengan tulisan: kepada Allah yang tidak dikenal.
Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.
Allah
yang telah menjadikan bumi dan segalah isinya, ia, yang adalah Tuhan atas
langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga
tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena
dialah yang meberitakan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.
Dari
satu orang saja ia telah menjadikan semua bangasa dan umat manusia untuk
mendiami seluruh muka bumi dan ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan
batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari dia dan mudah-mudahan
menjamah dan menemukan dia, walaupun ia tidak jauh dari kita masing-masing.
Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang juga telah
dikatakan oleh pujanggan-pujangganmu: sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
Karena
kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan
ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian
manusia.
Dengan
tidak lagi memandang zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada
Manusia, bahwa dimana-mana semua mereka harus bertobat.
Karena
ia telah menetapkan suaut hari, pada waktu mana ia dengan adil akan menghakimi
dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah ia memberitakan kepada
semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan orang mati, maka
ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “lain kali saja kami mendengar engkau
berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka pergi. Tetapi
beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya,
diantaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan
bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.
Kota
Atena merupakan pusat bagi kebudayaan Timur Tengah. Oleh karena orang-orang
Yunani itu menjadi budaak-budak orang Roma, mereka dapat menjadi guru-guru yang
memperluas filsafat dan pengajaran mereka ke seluruh kekaisaran Romawi itu. Di
Atena itu terdapat banyak hasil-hasil seni pahat. “sangat sedih hatinya”
berarti roh Paulus terharu/tergerak denga sedih atau marah.
Mulai
di rumah ibadat orang Yahudi, Paulus mengabarkan Injil di mana-mana di kota
Atena itu. Istilah pasar dengan biasa melainkan satu bagian kota yang
dikhususkan untuk orang-orang beramai-ramai mengadakan dialog-dialog. Golongan-golongan
orang yang mendengar Paulus itu memberi reaksi yang negative. Epikuros adalah
golongan fisafah yang percaya kesenangan adalah tujuan hidup manusia.
Kesenangan berarti:
*
Kesenangan sexual
*
Bertapakur/meditasi
*
Latihan-latihan akal,
*
Kemajuan kesusilaan
Orang
stoa-memiliki tempat khusus di Atena untuk mengadakan pengajaran dan diskusi mereka. Kepercayaan mereka bersifat
Panteis = pemujaan dewa dalam segala hal yang ada didunia. Segala sesuatu
seantero semesta alam ini merupakan allah (dewa) atau sebagian dari allah
istilah “si peleter” berarti orang yang suka omong kosong yang tidak
Karuan.
Orang-orang tersebut salah mengerti Paulus seolah.olah yesus daan kebangkitan
adalah dua dewa.
Areopagus
adalah sebuah sidang yang terdiri dari guru-guru dan ahli-ahli khusus mereka.
Mereka senang mendengarkan filsafah-filsafah baru dan ingin menguji Paulus
mengenai ajaran dia. Khotbah atau pidato Paulus ini agak singkat dan barangkali
adalah garis besar saja dari perkataanya.
Tetapi intinya jelas ialah: Allah, pencipta dan Hakim. Ada dua reaksi
terhada Paulus , ada yang mengejek da nada yang ingin mendengar lebih lanjut.
Inilah gambaran manusia pada umumnya. Ada yang mengejek yeus kristus, tetapi
ada juga yang ingin mendengar lagi. Kepada mereka yang pasti terbuka hatinya,
kita harus memberi makanan rohani. Paulus tidak mendapat banyak hasil di Atena
dan ia mau pergi ke kota Korintus. Di korintus Roh kudus telah mempersiapkan
orang-orang yang ingin mendengar injil. Pekerjaan Paulus itu sementara lagi
berkembang pesat.
BAB
III PENERAPAN DALAM GEREJA MASA KINI
Pelayanan Paulus di Atenna.
Dalam tour pelayanannya sampailah Rasul Paulus di Atena dan
betapa sedihnya hatinya ketika melihat bahwa kota itu penuh dengan
patung-patung berhala. Itulah sebabnya Paulus mengatur orang-orang di kota itu.
Penyembahan berhala adalah salah satu siasat iblis supaya
manusia terpisa dari Tuhan, mencari jalan keluar dan kesenangan hidup dengan
kecenderungan mengambil jalan pintas.
Jenis berhala kuno: jimat, takhayul, patung, ini adalah
berhala-berhala kuno, tetapi juga saat ini masih dipakai oleh orang-orang
tertentu yang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, tetapi juga
sering mangadu dengan kuasa kegelapan seperti hal-hal diatas ini
memanifestasikan kedalam dosa.
Berhala modern hoby, uang, karir, dan lain-lain. Ketika kita
lebih mengutamakan perkarah didunia ini lebih dari pada Tuhan, ia juga disebut
berhala. Jadi berhala bukan hanya berwujudan benda atau patung saja. Dari sini
saya simbulkan bahwa di dunia ini banyak yang menyembah berhala selain Tuhan
yang adalah mhakuasa dan sang pencipta langit dan bumi. Maka masa kini gereja
perlu mendalami, dan memenuhi kebutuhan jemaat masa kini agar tidak terjerumus
dalam dosa-dosa yang disebutkan diatas.
BAB IV PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah penulis mengamati dan
mempelajari strategi pengijilan yang dilakukan oleh Rasul Paulus yang dicatat
dalam Kitab Kisah Para Rasul maka penulis memberikan premis sebagai berikut
untuk menarik kesimpulan yaitu :
1.
Melalui strategi penginjilan yang dilakukan oleh Rasul Paulus pada masa
pelayanannya, maka strategi yang digunakan masih relevan dan dapat diterapkan
oleh para penginjil masa kini tanpa mengurangi nilai kebenaran Firman Allah.
2.
Penginjilan menjadi sarana untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang
belum mengenal Yesus sehingga mereka menerima Tuhan sebagai Juruselamat dan
juga menjadi sarana pemulihan hubungan antara Allah dengan manusia yang telah
terputus demikian juga pada masa kini.
3.
Usaha penginjilan dalam praktek agar mencapai sarana yang baik perlu adanya
strategi penginjilan, dalam hal ini tolak ukur keberhasilannya dapat dilihat
dari strategi penginjilan Rasul Paulus.
4.
Keberhasilan dalam prakteknya yang dilakukan oleh penginjil merupakan penerapan
dari strategi penginjilan yang dilakukan
oleh Rasul Paulus yang dicatat dalam
Kitab Kisah Para Rasul.
Uraian dari premis di atas
memberikan suatu kesimpulan bahwa judul strategi penginjilan Rasul Paulus yang
ditinju dari Kitab Kisah Para Rasul masih dapat di aplikasikan terhadap
penginjilan masa kini.
B. Saran-Saran
Setelah melihat kenyataan di
lapangan dan kebenaran Alkitab, maka penulis terdorong memberikan saran-saran
demi kemajuan pelayanan penginjilan masa kini yaitu :
1.Hendaknya penginjilan benar-benar
sebagai sarana pemberitaan Injil.
2.Penginjilan bukan karena materi,
melainkan terbeban untuk memenangkan jiwa-jiwa untuk Tuhan.
3.Melakukan penginjilan bukan karena
unsur paksaan melainkan sukarela dengan kasih yang tulus.
4.Melibatkan gereja-gereja lokal
dalam misi penginjilan, artinya ada hubungan kerjasama dengan seluruh
dedominasi gereja yang ada sehingga pelayanan misi penginjilan dapat terlaksana
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
LAI. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: LAI, 2008
BUDIMAN R. L. ,D. Minpelayanan
Lintas Budaya Kontekstualisasi.
H.Venema, injil untuk semua orang;
Misio Filii (hlm, 50)
Charles R. Swondoll, Seorang Yang Penuh Kasih dan Tegar PAULUS Jakarta: Nafiri Gabriel, 2007
WARREN W. WERSBE. Seri Tafsiran Berani Di
Dalam Kristus. Jayasan Kalam Hidup Jl. Naripan 67 Bandung.
[1] Budiman R.L, D.Min. (pelanyanan lintas budaya & kontesktual).
Hlm.21.55.
[2] Tafsiran KIsah Rasul
[3] Budiman R.L.,D.Min. (pelayanan lintas budaya &
kontekstualisasi) hlm. 23.53.
[4] Tafsiran Alkitab
Perjanjian Baru. Dianne Bergant, CSA. Robert J. Karris, OFM. Hlm.515.( hlm.
239-240. )
[5] WAREN W. WIERSBE. (berani
didalam Kristus). Hlm 195. (64-65).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar